Selasa, 20 Desember 2016

Nasionalisme di Perbatasan



 Tanah Surga... Katanya

Film bertemakan Nasionalisme ini mengajarkan rasa kecintaan kita pada Indonesia. Dalam film ini mengangkat tokoh seorang kakek yang dulunya adalah pahlawan pejuang Indonesia. Beliau memiliki dua cucu yang tinggal bersamanya. Mereka tinggal di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia, yakni di Kalimantan Barat.
                Film ini memperlihatkan jelas betapa pemerintah kurang memperhatikan masyarakat yang ada di perbatasan Indonesia. Akses menuju daerah tersebut juga sangatlah memprihatinkan. Mirisnya pendidikan di daerah perbatasan, bahkan mereka tidak mengenal lagu kebangsaan Indonesia Raya, yang mereka ketahui adalah lagu Kolam Susu. Begitu juga dengan bendera kebangsaan Indonesia, kebanyakan dari mereka tidak mengetahuinya. Dalam kehidupan sehari-harinya, mereka masyarakat daerah perbatasan malah menggunakan mata uang Malaysia, yaitu Ringgit. Banyak masyarakat Indonesia ingin memiliki kehidupan yang lebih baik dengan mengadu nasib pindah ke negara tetangga karena di negara tetangga keadaannya lebih makmur. Keadaan tersebut sangat jauh berbeda dengan kondisi Indonesia di perbatasan yang miskin.
                Yang lebih mengharukan, rasa kecintaan dan kesetiaan sang kakek pada Indonesia yang tidak mau diajak anaknya untuk hidup lebih baik di Malaysia. Sang kakek dengan satu cucu laki-lakinya tetap tinggal di tanah kelahirannya, Indonesia. Terdapat pelajaran dari sang kakek bahwa “walau apapun yang terjadi jangan pernah lupakan cinta kita pada tanah air ini”. Hal tersebut sebaiknya perlu kita renungkan baik-baik. Selain itu, kegigihan para siswa dalam menuntut ilmu di daerah perbatasan dengan keadaan sekolah yang memprihatinkan sangat jauh berbeda dengan keadaan sekolah di kota-kota maju , ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan bagi generasi penerus bangsa.
                Film ini juga mengangkat seorang anak laki-laki, yakni cucu dari sang kakek yang sudah memiliki jiwa kedewasaan dan mandiri di usianya yang masih anak-anak. Dia berusaha mencari uang demi mengobati kakeknya. Dia juga berusaha belajar dengan giat untuk membangun Indonesia menjadi lebih baik dan memakmurkan masyarakatnya.
                Dilihat dari film ini, hal yang dapat kita lakukan adalah menumbuhkan jiwa Nasionalisme dan rasa bersyukur kita pada Tuhan YME. Jangan biarkan harga diri bangsa kita diinjak-injak oleh bangsa lain. Kita harus lebih menghargai lambang Negara Indonesia. Kita tinggal di suatu negara, berarti kita harus taat dan patuh pada peraturan yang ada.

Senin, 19 Desember 2016

Secuplik tentang "Alangkah Lucunya Negeri Ini"



Pendidikan Pokok Utama Bangsa



Hai... setelah sekian lama off dari blog, saatnya kembali lagi. Tentunya dengan tema yang berbeda. Dalam kesempatan kali ini, saya akan mengulas sedikit mengenai film “Alangkah Lucunya Negeri Ini”. Menurut saya, hal yang mendasari dari film ini adalah banyaknya para koruptor yang merajalela  juga kurangnya lapangan pekerjaan yang berdampak pada tingginya angka pengangguran membuat maraknya rakyat miskin yang berujung pada kesenjangan sosial. Kesenjangan sosial yang menyebabkan rendahnya pendidikan di Indonesia. 

Karena mahalnya biaya sekolah, mereka rakyat yang kurang mampu tidak bisa menyekolahkan anaknya. Bahkan waktu belajar digunakan untuk mencari uang. Tapi dalam film ini, bagian yang sangat tidak patut adalah mencopet. Mereka anak-anak disuruh mencopet demi mendapatkan uang. Padahal sudah dimengerti bahwa hal tersebut merupakan perbuatan yang sangat tidak mendidik bagi anak.

Masih mengenai film tersebut, banyak hal yang menjadi sindiran untuk ditangani. Hal yang dapat dilakukan misalnya, pemerintah lebih bertindak tegas dalam memerangi korupsi. KPK harus dioptimalkan dalam bekerja. Mengingat pentingnya pendidikan dalam mengubah kehidupan yang lebih baik agar seseorang terlepas dari kebodohan dan kemiskinan, maka pemerintah sebaiknya memberikan lebih banyak beasiswa kepada siswa yang kurang mampu, lebih memikirkan rakyat kecil, dan juga menyediakan tenaga pendidik yang handal. Untuk meningkatkan mutu pendidikan, jangan lupa dilandasi dengan agama yang dapat membuat akhlak manusia menjadi lebih baik, agar dalam menerapkan kepandaiannya tidak terjerumus pada hal-hal negatif. Untuk mengatasi masalah pengangguran, pemerintah mungkin bisa memberikan lebih banyak lapangan pekerjaan bagi warganya. 
Sekian sedikit ulasan yang dapat saya sajikan. Semoga bermanfaat. Terima kasih.